2010.03.28
Sebuah Malam Ulang Tahun

Saya kurang ingat saat itu menjelang ulang tahun saya yang keberapa tepatnya. Entah ke-delapan, entah ke-sembilan. Yang jelas, beberapa hari menjelang hari itu, Ayah tidak pulang ke rumah.

Satu malam berlalu tanpa Ayah, dan lalu dua malam, dan Ibu mulai beralih dari marah ke kuatir. Di malam kesekian - atau beberapa jam sebelum saya bertambah usia - Ibu meminta tolong temannya mengantarnya mencari Ayah. Karena saya juga merasa kehilangan, saya pun diajak naik mobil keliling ke daerah Kota dan Mangga Besar malam-malam. Di setiap hotel kelas melati, mobil kami berhenti, saya menunggu di dalam bersama Ibu, dan temannya bertanya-tanya apakah Ayah menginap di hotel itu atau tidak.

Saat itu, saya tidak mengerti kenapa Ibu dan temannya mencari-cari Ayah ke hotel-hotel. Saya tidak mengerti kenapa Ayah tidak pulang. Saya tidak mengerti kenapa Ibu yang pertama marah, lantas jadi kuatir, dan lalu sedih. Yang saya tahu, saya jadi jatuh sakit malam itu.

Pencarian tidak membuahkan hasil. Sepulangnya, Ibu menelepon semua teman-teman Ayah yang ia kenal, dan mengabarkan bahwa saya sakit, dan suhu tubuh saya meninggi.

Paginya, saya bangun, dan Ibu mengucapkan selamat ulang tahun. Saya hanya bisa bertanya apakah Ayah sudah pulang. Ibu menggeleng. Namun, ulang tahun saya harus tetap dirayakan. Ibu memasak lebih banyak, mengundang teman-teman sekolah saya untuk datang di sore hari, dan memesan kue ulang tahun.

Saya tidak ingat siapa saja yang datang di sorenya. Teman-teman sekolah, tetangga-tetangga, sanak saudara - itu sudah pasti. Tapi, saya tidak ingat wajah mereka, saya tidak ingat nama mereka yang datang. Satu-satunya yang saya ingat adalah ketika di ujung pesta, saat hampir semua hendak bubar, Ayah akhirnya pulang.

Ayah membawa sebuah bingkisan hadiah yang besar sekali. Isinya ternyata seperangkat mobil balap mainan, lengkap dengan sirkuit-nya, dan lampu-lampu yang bisa menyala. Saya masih ingat dengan jelas ketika Ibu mematikan lampu rumah, dan membiarkan saya bermain dalam kegelapan supaya nyala lampu mobil mainan itu semakin terang.

Sekarang, saya mengerti bahwa saat itu saya adalah satu-satunya alasan buat Ayah untuk pulang entah dari mana. Saya mengerti bahwa dalam pernikahan yang seringkali tidak ideal, anak bisa menjadi satu-satunya tali pengikat. Terkadang, ikatan begitu kuat hingga seorang anak bisa tertekan hingga jatuh sakit.

Sampai hari ini, Ayah dan Ibu tetap bersama. Saya bersyukur dulu saya pernah jatuh sakit untuk membuat Ayah pulang ke rumah.

Posted at 04:12 by VE HANDOJO

dayana
March 28, 2010   04:42 AM PDT
 
Nice!!!
dr. B
April 2, 2010   10:05 AM PDT
 
great story... thanks for sharing it
fransisco
July 1, 2010   03:19 PM PDT
 
kena.. touching
tride
August 26, 2011   05:11 PM PDT
 
menyentuh banget.. lika liku kehidupan pernikahan..
 

Leave a Comment:

Name


Homepage (optional)


Comments







Previous Entry Home Next Entry
 

BEHIND THE MAYHEM:



This is a personal journal of Ve Handojo. All rights reserved. Quoting without permission is prohibited.

ALSO FIND ME IN:

GIVE ME A SHOUT HERE:


Free shoutbox @ ShoutMix


MY NOW AND FOREVER:

Maxmillian Hartandi
1974-2000.
The fondest memory I forever cherish.



 
<< March 2010 >>
Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat
 01 02 03 04 05 06
07 08 09 10 11 12 13
14 15 16 17 18 19 20
21 22 23 24 25 26 27
28 29 30 31


 

Blogdrive